Sejarah Lahirnya Kota Yogyakarta

Sejarah Lahirnya Kota Yogyakarta

Nov 16, 2012

Sejarah kota Yogyakarta tidak dapat terlepas dari adanya Kasultanan Yogyakarta . Sosok Pangeran Mangkubumi
adalah orang yang memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Kerajaan Mataram dari penjajahan Belanda, adalah adik dari Sunan Paku
Buwana II. Setelah melewati proses perjuangan yang sangat panjang, pada 29 Rabiulakhir 1680 atau yang bertepatan 13 Februari 1755, Pangeran Mangkubumi yang telah menyandang gelar Susuhunan Kabanaran menandatangani Perjanjian Palihan Nagari atau yang sering kita sebut dengan Giyanti. Palihan Nagari inilah yang menjadi awal mulanya keberadaan Kasultanan di Yogyakarta / Jogja . Pada masa itulah Susuhunan Kabanaran lalu memiliki gelar Sri Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I. Setelah adanya Perjanjian Giyanti ini, Sri Sultan Hamengku Buwana mesanggrah di Ambarketawang sambil menanti proses dibangunnya keraton Yogyakarta .

Setelah satu bulan dibuatnya Perjanjian Giyanti atau tepatnya hari Kamis Pon, 29 Jumadilawal 1680 atau tanggal 13 Maret 1755, Sultan Hamengku Buwana I mengumumkan atau memproklamirkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta ( Yogyakarta ) dan mempunyai setengah dari wilayah Kerajaan Mataram. Proklamasi berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta terjadi di Pesanggrahan Ambarketawang dan kita kenal dengan Kejadian Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram – Ngayogyakarta. Pada hari Kamis Pon, 3 sura 1681 atau tepatnya 9 Oktober 1755, Sri Sultan Hamengku Buwana I memberi perintah untuk mendirikan Keraton Ngayogyakarta di daerah Pacethokan dalam Hutan Beringan yang pada mulanya bernama Garjitawati.

Proses pembangunan kota Kasultanan Yogyakarta ini memerlukan waktu hana 1 tahun. Pada hari Kamis pahing,
13 Sura 1682 atau tepatnya tanggal 7 Oktober 1756, Sri Sultan Hamengku Buwana I bersama anggota keluarganya
hijrah dari Pesanggrahan Ambarketawan ke dalam Kraton Ngayogyakarta. Terjadinya perpindahan
ini ditandai dengan candra sengkala memet Dwi Naga Rasa Tunggal yaitu yang berupa 2 ekor naga yang ke 2 buntutnya sama-sama saling
melilit dan diukir di atas abanon atau renteng kelir baturana Kagungan Dalem Regol Kemagangan dan Regol Gadhung
Mlathi. Peristiwa kepindahan inilah yang digunakan sebagai dasar ditentukannya Hari Jadi Kota Yogyakarta karena mulai
pada waktu itu bermacam-macam sarana dan bangunan pendukung untuk memberi tempat aktivitas pemerintahan baik kegiatan
ekonomi, politik, sosial, budaya ataupun tempat tinggal mulai dibangun secara bertahap-tahap. Berlandaskankan itu semua
maka Hari Jadi Kota Yogyakarta ditentukan pada 7 Oktober 2009 dan dikuatkan dengan adanya Peraturan Daerah
Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2004.

 

One comment

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in and view the post's comments. There you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>