Mari Mengenal Lebih Dalam Tentang Keraton Yogyakarta

Mari Mengenal Lebih Dalam Tentang Keraton Yogyakarta

Nov 20, 2012

Banyak hal yang dapat kami jumpai dan kagumi di Keraton Yogyakarta . Tapi sebelum kami menjelaskan lebih lanjut hal-hal menarik yang ada di dalam keraton, kami akan menjelaskan sedikit mengenai letak atau lokasi keraton itu sendiri. Lokasi Keraton Yogyakarta adalah lokasi yang sangat strategis karena berada di pusat kota dan sangat mudah dijangkau menggunakan alat transportasi apapun. Kompleks keraton terletak di tengah-tengah kota Yogyakarta. Daerah keraton membentang antara Sungai Code dan Sungai Winanga, dan dari utara ke selatan antara Tugu Yogyakarta sampai Krapayak. Daerah keraton terletak di hutan Garijitawi, dekat desa Beringin dan desa Pacetokan. Karena daerah ini dianggap kurang memadai untuk membangun sebuash keraton dan bentengnya maka aliran Sungai Code dibelokkan sedikit ke timur dan aliran Sungai Winanga dibelokkan sedikit ke barat. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban pada masa awal mula dibangunnya Keraton Yogyakarta tergolong sudah cukup maju karena orang-orang pada masa itu sudah mampu membelokkan arah aliran sungai untuk meningkatkan konstruksi bangunan dan lagi menurut kami, sebagai salah satu hasil dari konstruksi bangunan untuk masa tersebut, Keraton Yogyakarta merupakan bangunan yang sangat kokoh karena tak sedikitpun termakan oleh waktu sehingga masih berdiri dengan gagah sampai saat ini. Walaupun dibutuhkan renovasi, itupun hanya renovasi-renovasi kecil disana-sini apalagi setelah gempa bumi yang melanda kota Yogyakarta beberapa tahun yang lalu.

Di sekitar kompleks keraton kita juga dapat menemukan beberapa kampung yang dulu menjadi tempat tinggal penduduk yang bekerja di lingkungan keraton. Nama kampung-kampung tersebut berhubungan erat dengan penduduk kampung tersebut dan tugasnya di keraton. Misalnya Gandekan (tempat tinggalgandek-gandek tau kurir dari Sultan), Wirobrajan (tempat tinggal prajurit-prajurit Wirobrajan), Pasindenan (tempat tinggal pesinden keraton).

Bangunan keraton dirancang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sendiri. Keraton dibangun pada tahun 1756 atau tahun Jawa 1682. Hal ini dapat kita lihat dari adanya sebuah Condrosengkolo di depan pintu gerbang Kemagangan dan di pintu gerbang Gadung Mlati, Di kedua pintu gerbang ini terdapat dua ekor naga yang berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa Jawa, “Dwi naga rasa tunggal” artinya: dwi=2, naga=8, rasa=6, dan tunggal=1. Ketika dibaca dari belakang akan menjadi 1682.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>