Kesakralan Dan Filosofi Paes Ageng Keraton Yogyakarta

Kesakralan Dan Filosofi Paes Ageng Keraton Yogyakarta

Nov 20, 2012

Tata rias serta Busana Paes Ageng dahulunya dimaksudkan untuk keluarga kerajaan Keraton Yogyakarta, namun seriring perkembangan jaman kini bisa digunakan oleh masyarakat umum. Perlu diketahui bahwa Paes Ageng merupakan busana yang merupakan paduan dari kain batik yang mempunyai warna dasar tertentu, sebagai contoh hijau daun, dilengkapi dengan motif alas yang dilukis dengan air emas (biasanya disebut dengan prada).

Busana pengantin ini tercipta kira-kira di masa setelah Perjanjian Giyanti sebagai hadiah dari Keraton Surakarta untuk Pangeran Mangkubumi (yang akhirnya diberi gelar Sri Sultan HB I) karena berhasil memenangkan perang melawan Belanda dan bisa merebut tanah yang kini menjadi Yogyakarta. Sampai pada tahun 1940 atau pada masa pemerintahan Sultan HB IX kemudian masyarakat umum diberi ijin untuk bisa menggunakan Busana Paes Ageng dalam upacara adat pernikahan.

Busana Paes Ageng sendiri dianggap sakral dan memiliki filosofi dari proses sebelum merias hingga setiap detil unsur yang terdapat di dalam busana. Setiap pola, busana, aksesori, wajah, tata rias dari Paes Ageng memiliki petuah dan filosofi yang bijak bagi calon pengantin. Misalnya seperti filosofi yang terkandung pada bagian gunungan yang merupakan sentral dari pola Paes Ageng adalah sebagai arti keanggunan perempuan yang senantiasa harus rendah hati pada sesama.

Selain itu pakem Paes Ageng gaya yogya menggunakan teknis merias wajah calon pengantin dengan menggunakan make up dengan dua unsur warna utama yaitu kehijauan dan kekuningan. Beberapa pakem yang diwariskan leluhur adalah mengenai ritual dan perias wajah Paes Ageng. Perias harus merupakan perempuan yang sudah menikah. Selain itu, ada beberapa ritual yang harus dilakukan perias sebelum memulai proses maesi (mengerjakan paes) seperti wajib berpuasa sebelum menjalani proses. Puasa yang dijalankan bertujuan untuk mengendapkan perasaan agar batin kuat dan jiwa bersih sehingga dapat melaksanakan proses dengan baik dan dapat terhindar dari segala petaka.

Kepercayaan masyarakat Jawa, terutama di Jogja, kekuatan dan kebersihan batin serta jiwa juru rias akan membuat pengantin yang dirias menjadi molek, anggun, cantik, dan menawan. Perias juga membaca doa di setiap pembuatan pola tata rias untuk tetap menjaga filosofi yang bijak (bagi pengantin) untuk menjalani hidup yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>